Menggambarkan kepribadian seseorang dengan introvert atau ekstrovert bukanlah hal yang asing lagi. Kedua kata tersebut sudah menjadi familiar di telinga masyarakat. Penamaan keduanya pertama kali dicetuskan oleh seorang psikiater dari Swiss bernama Carl Jung. Dia percaya bahwa beberapa kehidupan manusia bisa mendapatkan energi dari dunia internal (introvert) dan beberapa kehidupan manusia lainnya bisa mendapatkan energi dari dunia eksternal (ekstrovert)
Singkatnya Introvert lebih menyukai kehidupan sosial yang sempit adapun ekstrovert sebaliknya. Diantara ciri-cirinya orang introvert lebih memilih kerja sendiri, merasa lebih nyaman bergaul dengan satu atau dua orang saja, memiliki cara berpikir yang jauh lebih internal, lebih memilih menulis dibanding berbicara, dan biasanya lebih tenang dan pemalu. Sementara seorang ekstrovert tidak suka menyendiri karena bagaimanapun kondisinya ia lebih merasa nyaman di tengah banyak orang tak heran kalau mereka lebih pandai bergaul dan jauh lebih memiliki banyak teman, berjiwa optimis, outgoing, jarang merasa khawatir dengan risiko, lebih banyak berbicara, dan biasanya selalu tampil percaya diri.
Anyway sampai di sini apakah budimen pernah mendapatkan ciri-ciri teman, sanak family, atau mungkin diri sendiri yang memiliki sifat kepribadiannya bercampur alies berada di antara keduanya? Ane yakin pasti pernah bahkan bisa jadi sering. Iya gak sih? Sok tau amat sih! Wkwkwkwk. Nah kalau memang pernah, apakah budimen tahu apa nama sebutan dari orang yang berkepribadian tersebut? Pastinya yang dimaskud di sini bukan berkepribadian ganda ya, istigpar! Oleh karena itu kita akan bahas di blog kali ini.
Orang yang hidup dengan kepribadian introvert dan ekstrovert atau berada di tengah keduanya disebut kepribadian ambivert. Itulah sifat seseorang yang tidak cocok dengan dua definisi kepribadian tersebut. Terlepas dari keduanya, ambivert akan lebih tergantung pada situasi yang ia hadapi. Bisa dibilang ane juga termasuk pada kategori kepribadian satu ini. Gak heran kalau banyak teman ane bilang, “Uwais gak bisa diganggu kalau lagi ngerjain sesuatu soalnya ente juga gak akan bisa diajak ngobrol sama dia kalau posisinya lagi seserius itu.” Tapi di sisi lain kalau mereka tau ane sedang lepas dari keseriusan itu, “Ajak Uwais dong, biar rame!” Kurang lebih begitulah percakapan mereka. Cieellaahh sok asyik!
Hakikatnya ana bukanlah seorang ambivert sesungguhnya. Jujur ya, waktu SD ana termasuk yang berkepribadian introvert. Jarang bergaul which is mainnya sama teman yang itu-itu aja, pemilih, sulit beradaptasi, merasa nyaman dengan kesendirian, pemalu tingkat tinggi. Akibatnya ana jadi sering dapet bullyan dari teman-teman sekelas walaupun hanya sebuah cibiran tetap aja hati terasa panas hingga terluka, hehe...
Terus, sekarang kok bisa jadi ambivert? Ini dimulai saat ana memasuki tahap usia pertama menginjak tanah di pondok. Rupanya, pada adaptasi tersebut kehidupan yang ana dapatkan tidak jauh berbeda dari sebelumnya bahkan bullyan di sana malah makin menjadi-jadi. Dua tahun beradaptasi di pondok, ana berpikir sepertinya ada yang salah dengan sikap ane selama ini. Akhirnya ana berinisiatif untuk bagaimanapun caranya ana harus mengubah sifat ane sedikit demi sedikit dengan waktu yang terukur. Alhamdulillah dengan berjalannya waktu ana diberikan kemampuan oleh Allah untuk mengubah sifat ana dari yang sebelumnya menjadi kepribadian yang ambivert. Lebih bersyukrunya lagi ana jadi memiliki banyak teman dari berbagai daerah. Oeah, by the way ana bukan bermaksud atau beranggapan bahwa kepribadian introvert adalah kepribadian yang salah. Justru ana bertanya dari mana salahnya seseorang yang memiliki kepribadian tersebut? Kala itu ananya saja yang terlalu bodoh mengatur sifat introvertnya dan ketika berusaha memulai untuk mengubahnya secara tidak sengaja dan tanpa disadari kepribadian ambivert membentuk pada kepribadian ana. Begitu gaezzz...
Okay, seperti yang kita bahas pada judul artikel ini ana akan share perihal beberapa sifat kepribadian ambivert yang selama bertahun-tahun ana merasakannya juga. Inilah diantara ciri-ciri sifat seorang ambivert:
Situasional yang tinggi
Situasional adalah andalan tertinggi dari sifat kepribadian seorang ambivert. Artinya ia dapat merasa nyaman dengan situasi sosial di sisi lain ia juga menghargai waktu untuk menyendiri. Misalnya, seorang ambivert yang diundang pada sebuah acara, awal mula yang ia lakukan adalah memikirkan sisi positif dan negatifnya dari acara tersebut. Bisa saja memilih untuk memenuhi undangannya atau justru sebaliknya. Dari sini kita tidak perlu heran lagi jika mendapatkan teman yang merasa nyaman di tengah keramaian tetapi merasa nyaman pula di kala menyendiri. Permisalan dari situasional ambivert lainnya adalah dalam kalangan dekat ia akan menjadi orang yang terbuka, tetapi jika ia tidak mengenalnya ia akan cenderung tertutup.
Dapat menyesuaikan perilaku sekitar
Meskipun seorang ambivert cenderung memiliki sifat situasional jangan salah bahwa kepribadian ambivert mampu menyesuaikan perilaku yang berbeda dari lingkungan sekitarnya dan baginya ini adalah hal yang lumrah karena seorang ambivert dapat memberikan keseimbangan yang mampu memecahkan kesunyian serta memberikan kenyamanan dalam bersosialisasi terhadap seorang yang memliki tipe dengan kepribadian yang serupa bahkan bisa saja berbeda darinya. Inilah yang menjadikan seorang ambivert jauh lebih akrab dengan semua orang.
Mampu berkomunikasi di tengah keramaian
Kepribadian ambivert mampu berada di tengah keramaian sementara pada situasi yang ramai tersebut ia mampu mengkondisikan dirinya dari interaksi yang mengandung pro dan kontra. Sehingga jikalau perselisihan terjadi pada kedua belah pihak, maka seorang ambivert akan berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya.
Terkadang bisa menjadi teman yang rame dan terkadang bisa menjadi teman yang hening
Pertanyaannya, “Kok bisa?” Karena sifatnya yang situasional seorang ambivert tentunya tahu betul kapan sebaiknya ia afktif berbicara dan kapan sebaiknya ia memilih diam. Seorang ambivert mampu melakukan keduanya secara bergantian di waktu yang tepat.
Baca juga: Dari Banyaknya Penemu Lampu Lalu Lintas. Siapakah Penemu Sebenarnya?
Rasa empati yang tinggi
Menjadi pendengar yang baik saat ada pembicara atau menjadi pembicara yang baik saat ada pendengar senang menyimaknya merupakan sifat seorang ambivert. Terutama yang menjadi sorotan ambivert adalah bersimpati menjadi pendengar yang baik dikala mendapatkan temannya yang mengeluhkan keluh kesah hidupnya tidak sampai di situ saja, usai mendengarkan ia juga kerap menjadi pembicara yang ulung untuk memberikan solusi, ketenangan, dan rasa simpati kepada temannya yang sedang bersusah hati.
Mudah mengenal karakter yang dikenalnya
Dengan kepribadiannya yang cenderung fleksibel, ambivert akan dengan mudah membedakan tipe kepribadian orang yang dikenalnya. Lantaran bisa jadi ia telah mengalami keduanya atau bisa saja disebabkan ia yang mudah bergaul tanpa harus memilih salah satu dari orang yang berkepribadian introvert atau ekstrovert. Kepribadian inilah yang membuat seroang ambivert dapat bekerja baik dalam tim Disebut Introvert Gak Bisa, Disebut Ekstrovert Juga Juga Gak Bisa. Terus Apa Dong?bahkan tanpa dengan keduanyapun ia mampu bekerja dengan sendiri. Tak heran jika seroang ambivert akan mudah diterima dan disukai oleh seorang pemimpin serta bawahannya.
Itulah beberapa karakter yang sangat mencolok dari orang yang berkepribadian ambivert. Sampai di sini, sudahkah budimen paham apa itu ambivert? Jika iya, apakah budimen termasuk kategori ini? Silahkan jawab pada diri masing-masing. Apapun karakternya, hubungan dengan manusia dan hubunguan dengan Allah harus selalu ada di hati kita.


Comments
Post a Comment