Skip to main content

Makna Dibalik Bangunan Masjid Istiqlal

        


        Warga plus enam puluh dua siapa sih yang gak kenal dengan masjid termegah satu ini? Bangunan yang dinamakan Istiqlal ini merupakan salah satu tempat sujudnya kaum muslimin yang berlokasi di Jakarta Pusat, Indonesia. Selain terkenal dengan megahnya, masjid ini merupakan masjid terbesar pertama di Asia Tenggara dan menjadi salah satu deretan masjid terbesar di dunia. Karena kemegahannya masjid ini telah dikunjungi oleh berbagai tokoh dunia seperti Angela Merkel, Barrack Obama, hingga Raja Salman. Sampai di sini, budimen mungkin sudah banyak tahu. Iya gak sih? Tapi, apakah budimen tahu bahwa masjid termegah di Asia Tenggara ini memiliki banyak seni dan filosofi yang bermakna pada setiap sudut bangunannya? Penasaran? Yuk simak tentang apa saja makna dibalik bangunan masjid Istiqlal!

        Sebelumnya, salah satu awal mula sejarah masjid Istiqlal dibangun adalah terjadinya penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia atas kedudukan ibu kota di Yogyakarta yang berlangsung hingga pada akhir tahun 1949 sesuai hasil kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Berhubung saat Yogyakarta masih menjadi ibu kota, Yogyakarta telah membangun masjid terbesarnya yang masih bisa dikatakan, "belum lama" pada masanya. Lantas setelah perpindahan ibu kota terjadi, masyarakat Jakarta mulai berpikir untuk membangun masjid terbesar di daerahnya. Akhirnya, dibuatlah sebuah Yayasan Masjid Istiqlal pada tahun 1954.

        Dilansir dari website resmi Istiqlal, pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 16 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Pembangunan Masjid Istiqlal ternyata tidak berjalan mulus karena situasi politik yang kurang kondusif. Pada masa di mana demokrasi parlementer berlaku di Indonesia, partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 saat mencuatnya peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti.

        Baru ketika situasi politik mereda, yakni pada tahun 1966, Menteri Agama KH Muhammad Dahlan melanjutkan pembangunan Istiqlal. Masjid yang menelan biaya pembangunan sebesar Rp 7 miliar dan US$ 12 juta itu baru selesai dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

        Oeah, mulai dari proses perencanaan sampai sayembaranya dipimpin langsung oleh bapak Presiden Soekarno dan dari sekian banyak kontestan serta proposal yang masuk hati bapak Presiden tertarik pada satu rancangan yang bersimbolkan ketuhanan yang telah diajukan oleh seorang arsitek generasi awal ternama di Indonesia, Frederich Silaban.

        Uniknya, Frederich Silaban adalah seorang kristiani dan seorang anak pendeta yang pendidikan formalnya hanya mencapai SMA. Semua passion-nya di dunia arsitektur ia dapatkan dari otodidak. Meski pendidikan formalnya hanya sebatas SMA tapi maha karyanya tidak dapat diragukan lagi karena rupanya ialah yang telah merancang seni bangunan Monumen Nasional, Stadion Gelora Bung Karno, Tugu Khatulistiwa, dan masih banyak yang lainnya.

Baca juga: Suka dan Duka Hidup Seorang Santri

        Namun dengan demikian, semua itu tidak mengurangi makna islami dalam detail bangunannya. Masjid ini dibangun sebagai simbol kemerdekaan Indonesia. Istiqlal sebuah kosa-kata yang diambil dari bahasa Arab yang artinya adalah kemerdekaan. Ngomongin kemerdekaan Indonesia, masjid terbesar di Asia Tenggara ini memiliki tujuh pintu masuk yang ditunjukan sebagai bulan kemerdekaan Indonesia dan setiap pintu masuk memiliki nama dari Asmaul Husna. Selain itu, tujuh pintu masuk tersebut disimbolkan sebagai tujuh lapis langit dan tujuh hari dalah satu pekan.

        Okay, kita masuk ke bagian atapnya! Pada zaman itu, atap-atap masjid di pulau jawa berbentuk segitiga namun di Istiqlal, Silaban memberikan sentuhan yang berbeda dengan menggunakan kubah Timur Tengah dengan sentuhan modern tanpa ornamen. Kubah ini memiliki diameter berukuran 45 meter. Angka ini melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu 1945. Kemudian kubah ini ditopang dengan dua belas tiang besar menjulang tinggi. Angka 12 melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ yang jatuh pada 12 Rabiul Awal. Selain itu melambangkan juga 12 bulan dalam penanggalan Islam.

         Di dalamnya, masjid Istiqlal memiliki empat lantai balkon dan satu lantai dasar. Kelima lantai ini melambangkan 5 Rukun Islam, jumlah shalat wajib dalam sehari, serta jumlah sila dalam ideologi negara Indonesia, Pancasila.

         Beralih ke bagian luar, masjid ini memiliki satu menara. Satu-satunya menara ini menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Esa. Menara yang dirancang dengan ketinggian 66,66 meter melambangkan jumlah ayat Al-Quran serta puncak menaranya dibuat dengan kerangka baja setinggi 30 meter sebagai simbol jumlah Juz pada Al-Quran.

        Kembali soal atap, masjid ini dilengkapi dengan satu kubah lagi, yang berarti jika ditotal ada dua buah kubah masjid yang dapat menenduhkan para pengunjung di bawahnya. Ngomoning dua kubah masjid dan dua buah bangunan yakni satu bangunan dalam masjid serta satu bangunan menara yang saling berdampingan, rupanya ada makna terselubung yang sangat dalam jika diartikan yaitu sebuah arti dualisme yang saling berdampingan dan melengkapi yakni langit dan bumi, dunia dan akhirat, lahir dan batin, serta dua bentuk penting dalam seorang muslim; hablum minannas dan hablum minallah.

Baca juga: Kebiasaan Buruk yang Membuat Laptop Cepat Rusak!!

        Lantas yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana seorang arsitektur penganut kristiani bisa tahu banyak perihal pengetahuan Islam tanpa mengganggu estetika serta fungsi masjid Istiqlal ini? Jawabannya karena dia belajar. Dia benar-benar belajar dan mempelajari secara rinci tentang perilaku keaadaan umat muslim untuk memberikan umat muslim masjid ternyaman yang nantinya bisa digunakan oleh kaum muslimin.

        Terakhir, apakah makna atau simbol-simbol bangunan tersebut dapat dikaitkan dalam syariat Islam? Jawabannya tentu tidak. Namun tujuan dari makna-makna bangunan di atas tidak lain adalah agar kita sebagai kaum muslimin dapat meningkatkan kembali serta bersemangat dalam menerapkan amalan-amalan syariat Islam pada kehidupan sehari-hari. Siapa tau budimen lupa, eh liat bangunan masjidnya yang memiliki makna unik jadi inget lagi deh, hehe...

Comments

Popular posts from this blog

Dampak Negatif dari Malas Membaca

                    Buku merupakan salah satu jendala ilmu karena buku dapat dikatakan sebagai sumber dari segala ilmu dan tentunya membaca buku merupakan kebutuhan penting untuk meng-upgrade diri. Namun, sayangnya di negri ibu pertiwi angka minat baca tertinggal jauh oleh negara lain. Menurut data UNESCO menunjukan, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001% artinya dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 diantaranya yang rajin membaca. Riset berbeda dituangkan oleh World’s Most Literrate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu bahwa Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara minat baca, persis di bawah Thailand yang menduduki peringkat ke-59 dan di atas Bostwana yang menduduki peringkat ke-61.           Tak terbayang bukan, betapa jauhnya angka minat baca di Indonesia? Selanjtunya, apakah budimen sadar...

Balita yang Ngeselin Parah!!

            Kecil, lucu, imut, serta sifat dan tingkah lakunya yang menggemaskan siapa lagi kalau bukan seorang balita. Makin menggemaskan rasanya saat kita berhasil membuatnya tertawa riang lalu mengulang-ngulangnya kembali untuk mendapatkan riangnya yang lebih dari si balita yang menggemaskan.           Di sisi lain sifat balita tuh gak selamanya ngegemesin ada aja kalanya mereka senang membuat suasana ricuh dengan teriakannya, merasa memiliki apa yang dia suka, rasa ingin tau yang tinggi kek contohnya mainin peralatan dapur entah itu parutan keju, gunting, atau pisau dan lebih konyolnya lagi adalah banyak kejadian yang sering didapatkan dari mereka yakni akibat rasa ingin taunya yang tinggi dan saking tingginya, dia memasukan benda-benda kecil ke dalam mulut, hidung, atau telinga yang nanti emaknya bakal jejeritan plus panik gak karuan. Mungkin dalam pikiran si balita, "Apakah keluarnya akan jadi bom atom?" Gak paham ju...