Menjalani kehidupan seorang santri tentunya membutuhkan nyali yang tinggi dan tekad yang keras demi menghadapi berbagai tantangan yang luar biasa. Suka dan duka pasti terlewati. Terutama sebuah duka. Mulai dari adaptasi, belajar penuh mandiri, terpisahnya jarak dari keluarga dan lain-lainnya. Ada yang pernah bilang, “Siap menjadi santri berarti siap menjalani hari yang sering terbebani, terbebani karena berusaha hidup mandiri, mandiri tuk berjuang mendapatkan ilmu syar’i, lalu diamali tuk diri sendiri dan tak lupa memberi demi meraih ridho ilahi yang nantinya akan dihidupkan kembali agar dapat surga haqiqi bukan hanya surga duniawi.” Capek gak tuh bacanya? Wkwkwk
Tapi pernah
gak sih budimen terutama untuk budimen dari kalangan adik-adik yang sebentar
lagi mau melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren, kalau yang namanya
mondok itu gak selalu memprihatinkan kok, apalagi sampai level na’as dan
menakutkan seperti yang dibayangkan. Lagi pula kalau seandainya suasana mondok
begitu, pastinya ana juga gak akan pernah punya status ini sampai menjadi
alumnus. Perlu diketahui adik-adik bahwa yang namanya mondok tentunya jauh
lebih seru bahkan ane yang sudah lulus seneng banget bernostalgia ke masa-masa
terindah, terkocak, terawkward, tersedih, tapi ter-the best juga!
Nah karena ane sendiri pernah melewati masa-masa itu ana jadi mau cerita dan share juga nih tentang suka dan dukanya hidup seorang santri. Berhubung dukanya sudah ana share di blog sebelumnya jadi di sini ana hanya akan share tentang beberapa sukanya hidup seorang santri. Nah, buat budimen yang belum sempat baca dukanya hidup seorang santri, mending tahan dulu deh. Nanti kalau udah gak kuat ente ngibrit ke WC! Emang mau ngapain is? Canda kok!
Suka dan Duka Hidup Seorang Santri Part I
Berikut pengalaman yang memorable dan
takkan pernah terlupakan:
Ini
beneran berasa sih, inget dulu saat SD yang mana ana masih kolokan banget sama
emak sampe banyak yang bilang ana tuh udah kayak prangko. Kok prangko dah? Apa hubungannya? Prangko kalau udah nempel kertas gimana
sih? Dulu yang apa-apa harus sama emak, dari emak, demi diri sendiri aja susah
banget. Nah, dari kehidupan baru ini selain ana diharuskan mampu beradaptasi
ana juga diharuskan mampu mengatur waktu sebaik mungkin setidaknya gak sekacau
waktu SD yang kerjaannya ngebolang terus udah kayak bocah ilang.
2. Pola hidup yang terarur
![]() |
Udah selesai ngerjain tugas belum? |
Budimen
bayangin aja, gimana gak teratur? Toh kita diwajibkan mematuhi schedule
kegiatan hariannya. Atas izin Allah dengan berjalannya waktu yang cukup singkat
kebiasaan buruk yang dulu selalu berulang kali bisa hilang begitu saja.
Contohnya: Solat 5 waktu jadi termotivasi yang sebelumnya terasa berat jadi
terasa biasa saja, mungkin yang sebelumnya jarang baca Alquran jadi sering baca
alquran setidaknya dalam sehari lisan kita tidak pernah lepas dari melantunkan
ayat Allah, jadwal tidur teratur, makan 3x sehari jarang telat, belajar
menghemat pengeluaran, dan masih banyak lagi. Gak percaya? Coba deh kalian
tanya sendiri kepada para alumnus pondok entah itu dari kalangan keluarga,
tetangga, atau kalau ada tukang cilok juga boleh kok. Tapi inget, jangan nanya
doang, wajib beli juga! Ngeri artikel ane direport sama abangnya, wkwkwk.
3.
Banyak
hafalan
Sampai sini sadar kan? Sekalipun ente males-malesan paling tidak ente tetap mendapatkan jumlah hafalan Alquran, hadits-hadits rasul, quotes para ulama dan sebagainya yang jauh lebih banyak dibandingkan temen-temen ente yang pada umumnya hanya belajar agama di sekitar lingkungan rumahnya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentunya hal yang tidak bisa dipungkiri adalah faktor sebuah lingkungan. Karena faktor lingkungan yang artinya semua terjadwal, tersusun, terulang, dan selalu bertatap pada interaksi yang pembahasannya tidak jauh berbeda bahkan bisa jadi sama serta terulang memicu kita untuk termotivasi dalam banyak menghafal terutama hafalan yang telah ditargetkan oleh pondok pesantren tersebut.
Tapi
bukan berarti di sini ana mengajarkan para budimen untuk malas-masalasan atau
bersantai-santai saja. Karena apapun itu bentuknya kita tidak akan pernah bisa
meraih apa yang kita inginkan dengan cara mie instan. Mienya coret kali is! Sssstttt…..
4.
Awal
bulan tiba
Setiap yang berawal pasti berakhir, setiap yang berakhir belum tentu bisa berawal kembali. Misalnya, tutupnya sebuah usia kecuali mati suri tapi suatu saat dia akan berakhir juga kan? Weh horror amat is! Makanya banyak-banyak istigpar dah! Ane juga kok hehe…
![]() |
| Menanti terbitnya fajar |
Awal bulan merupakan moment yang dinanti oleh seorang santri macam ane karena dengan hadirnya satu moment ini, kejenuhan yang membandal dapat terhilangkan dengan sendirinya layaknya sabun rinso yang hanya 2x kucek. Beda cerita kalau dia adalah seorang putra dari raja mang Odinson (Silahkan search sendiri siapakah ia?) baginya awal bulan hanyalah sebuah bonus. Gimana gak dianggap bonus? Akhir bulan aja masih sanggup-sanggupnya ngasih sodaqoh kepada santri-santri yang menanti terbitnya fajar di awal bulan. Sedih beud deh ya Allah. Tapi begitulah kenyataan santri yang tak bisa dipungkiri.
Selain
rasa kebahagiaan santri datang dari terbitnya fajar, banyak dari santri di
waktu tersebut mendapatkan kehatangan dari kasih peluknya keluarga mereka
secara langsung. Disini terbukti bahwa awal bulan adalah moment yang sangat
menyegarkan untuk semua kalangan. Alhamdulillah.
5.
Kiriman
paket
![]() |
| Permisi... Paket!! |
Selain
awal bulan, hal satu ini mampu mencuci kejenuhan yang membandal layaknya sabun
rinso tadi. Contohnya persis kayak ane yang jarang banget dijenguk keluarga.
Lebih indahnya lagi paket datang pada pertengahan bulan. Wkwkwk. Jadi inget,
kalau dulu dapet paket di pertengahan bulan dan merasa kebutuhan masih
tercukupi akhirnya ane pernah merasakan jadi putra dari raja mang Odinson
sementara. Sombong amat! Bukan
sombong, rasanya seru aja bisa berbagi!
6.
Saling
peka dan berbagi
Fix ini moment akan selalu teringat dan gak akan pernah terlupakan. Dari banyaknya santri saat mereka sedang memiliki tanpa harus memilki lebih jarang rasanya dari mereka hanya memperuntukkan diri sendiri. Misalnya, memberikan beberapa tetesan sabun cair, shampoo, secoel odol saat mendapatkan santri yang kehabisan stok, saling berpartisipasi mendonasikan sebagian hartanya dikala mendapatkan teman yang tidak sengaja merusak atau menghilangkan barang si peminjam, makan ramean pake 1 nampan, dan lebih indahnya lagi bisa saling sharing ilmu bersama mereka.
Terkadang
ada aja moment dimana saat seorang ustadz menjelaskan materi ane gak bisa
begitu paham langsung dari apa yang telah disampaikannya tapi begitu teman
menjelaskannya dengan bahasa pertemanan ana bisa memahaminya dengan baik. Dari
situ ana mengaggap bahwa betapa pentingnya menjaga pertemanan dalam kehidupan
karena selain mereka mampu memberikan arti sebuah materi, mereka juga mampu
memberikan arti sebuah nilai akademi dan moral yang nantinya akan kita
aplikasikan. The Best deh pokok’e!
7.
Setiakawan
Jelas ini akan tumbuh pada diri budimen terhadap kawan-kawan santri budimen. Terlebih dalam pertemanan se-angkatan budimen which is budimen bersama teman-teman telah merasakan suka duka dan haru birunya dalam menjalani kehidupan pada atap yang sama, ditambah budimen bersama teman-teman merasakannya pada jangka waktu yang cukup panjang. Ada sebuah penelitian mengungkapkan bahwa, “Persahabatan yang berlangsung lebih dari 7 tahun akan berlangsung dalam seumur hidup.” Walaupun ada penelitian lain menentangnya tapi entah mengapa ana merasakan realita dari penelitian yang mengungkapkan indahnya persahabatan yang telah terjalin lebih dari 7 tahun tersebut. Wallahu a’lam yang mana benarnya tapi yang terjadi hingga saat ini ana dengan kawan-kawan se-alumnus merasakan betapa kuatnya persahabatan kita. Alhamdulillah ane dan mereka masih diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa menjalaninya dengan erat yang seerat-eratnya even kita telah menjadi alumnus dari 4,5 tahun lalu dan jarak yang memisahkan kita semua.
![]() |
| Ilustrasi persahabatan satu atap |
Anyway terbaik untuk ketua angkatan ane dan kawan-kawan alumnus yang selalu menanyakan kabar dan kondisi para sahabat karibnya hingga saat ini. Sumpah pengen banget nyebutin namanya di bagian paragraf ini cuma ane gak berani meskipun yang diungkapnya sebuah kebaikan, peace!
8.
Berakhirnya
sebuah cerita
![]() |
| Akhir dari sebuah cerita |
Terus terang ane sendiri sebenarnya bingung mau memasukan bagian ini ke part sebelumnya atau part yang saat ini sedang budimen baca tapi setelah dipikir-pikir sebelum ane menulis blog yang menjadi 2 part ini, ane lebih merasa cocok dan layak menuangkannya pada blog bagian ini.
Dari berakhirnya sebuah cerita, tentu ane merasakan duka dan kesedihan yang amat dalam, atas haru biru yang telah dilalui bersama sahabat-sahabat disana. Sukanya ana bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercinta dan membawa bekal demi meraih cita-cita serta berpeluang tinggi untuk memberikan pula bekal tersebut kepada keluarga yang telah lama menantikan diri ana agar dapat berkumpul kembali dan memberikan bekal tersebut kepada mereka.
Terkadang suka berpikir, “Apakah ini yang dimaksud dari setiap yang berawal pasti berakhir tapi setiap yang berakhir belum tentu bisa berawal kembali?”
Alhamdulillah selesai sudah budimen membaca blog ke-3 sampai dengan ke-4 ini. Itulah berbagai suka dan duka hidup seorang santri yang pernah ana rasakan selama menjadi santri 7 tahun. Sebenarnya ada banyak lagi selain dari blog ini yang pernah ane lalui dari suka dan duka hidup seorang santri tapi ana meringkasnya dengan beberapa yang sangat mencolok dari kehidupan seorang santri.
Ane yakin kok suka dan duka tidak hanya terjadi pada kehidupan santri saja melainkan apapun status dan profesinya pasti pernah melalui dua hal itu. Perlu diingat wahai para budimen, dalam sebuah kehidupan setiap yang bersuka pasti ada duka dan setiap yang berduka pasti ada suka. Ambilah hikmah dari sebuah kehidupan karena kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari suka dan dukanya. Tentu 2 kata ini memiliki arti yang sungguh luar biasa hanya saja kita lebih dekat dengan tidak mensyukurinya sehingga tanpa disadari hati kitapun lebih dekat dibutakan dari hikmah dua kata ini, suka dan duka.






Comments
Post a Comment